#

WISUDA SARJANA STRATA SATU SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM WALISEMBILAN SEMARANG TAHUN 2019

28 Desember 2019

Pada Hari Selasa 24 Desember 2019, di lakukan pengukuhan kelulusan, sekaligus  mewisuda Sarjana Strata Satu ( S 1 ) sebanyak 217 orang, terdiri dari 194 orang Sarjana Program Studi Pendidikan Agama Islam   ( PAI ),  10 orang Sarjana Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah ( PGMI ), 11 orang Sarjana Program Studi Al Ahwal Al Asyaksyiyyah ( AS ), 2 orang Sarjana Program Studi Komunikasi Dan Penyiaran Islam ( KPI ). 

Pada kesempatan ini saya atas nama pimpinan dan segenap Civitas Akademika SETIA Walisembilan Semarang mengucapkan “ Selamat “ atas keberhasilan Saudara – saudara dalam menyelesaikan studi di SETIA Walisembilan Semarang. Ucapan “Selamat” juga saya sampaikan kepada Bapak – bapak dan Ibu – ibu para orang tua, suami atau istri dan keluarga para Wisudawan.

Pada kesempatan yang baik ini saya ingin menyampaikan pernyataan Menteri Pendidikan kita Nadiem Makarim dalam suatu kesempatan belaiau menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sedang memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi, kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya, akreditasi tidak menjamin mutu, dan masuk kelas tidak menjamin belajar. Meski banyak pihak memperdebatkan, akan tetapi perusahaan skala global seperti Google, Johnson and Johnson, Ernst and Young, Pricewaterhouse Coopers, dan sejenisnya telah memutuskan tak lagi mensyaratkan ijazah untuk bergabung di perusahaanya, meski mereka tetap menghargai kualifikasi pelamar, ijazah tak lagi menjadi prasyarat untuk mendapatkan pekerjaan.

Pernyataan Mendikbud tersebut menjadi lonceng yang mengingatkan dunia pendidikan termasuk SETIA WS di tuntut untuk menyiapkan lulusannya tak sekadar memperoleh ijazah, tetapi juga harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan jenjang dan program yang ada di SETIA WS sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Bahkan bukan hanya itu, kompetensi yang disiapkan SETIA WS diharapkan bisa menjawab permasalahan masa depan untuk membekali mahasiswa dalam menghadapi tantangan masa mendatang

Untuk menyongsong masa depan saudara – saudara perlu mencermati apa yang pernah di laporkan oleh McKinsey Global Institute pada tahun 2017 dan 2019 yang memprediksi bahwa 23 juta pekerjaan di Indonesia terancam punah pada 2030, maka dari itu saudara dapat segera mengintegrasikan diri dengan lingkungan memanfaatkan dan menciptakan kesempatan dan mampu berkompetisi secara sehat dan sportif. Saudara memiliki kemampuan andal tidak hanya menjadi pencari kerja ( Job Seeker ) tetapi juga menjadi menjadi pencipta kerja ( Job Creator ). Keberhasilan sangat bergantung pada kepiawaian Saudara dalam membaca peluang dan menciptakan peluang untuk memberdayakan diri sebagai insan yang sudah memiliki pengalaman belajar dan kompetensi layak. Anda harus menatap masa depan dengan sikap percaya diri.

Kami Keluarga Besar SETIA Walisembilan Semarang mengharapkan Saudara  - saudara pandai dan bijak dalam memanfaatkan pengalaman belajar dan hasil belajar itu dengan keberhasilan Saudara – saudara lebih lanjut. Saudara Wisudawan juga harus paham bahwa almamater Saudara beridentitas Islam ala Ahlus Sunnah Wal Jamaah An Nahdhiyah. Dengan identitas itu Saudara – saudara memiliki tanggung jawab terhadap keberlanjutan pembangunan masyarakat, pemeliharaan dan pengembangan Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan pegangan prinsip – prinsip berikut :

TAWASUTH, selalu bersikap modrerat dalam menghadapi dan mensikapi berbagai macam persoalan.

TAWAZUN, merupakan sikap seimbang dalam segala hal, artinya dalam mensikapi berbagai macam persoalan disikapi dengan pola yang terukur, terarah, terkonsep dan tersusun dengan metodologi yang bisa dipertanggung jawabkan.

AL - I’TIDAL, merupakan sikap tegak lurus atau bersikap adil, artinya berani mengatakan yang haq itu adalah haq dan yang bathil itu adalah bathil walaupun terhadap orang lain yang berbeda agama, ras, suku dan kebangsaannya.

TASAMUH, merupakan sikap toleransi, yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. sehingga dapat hidup berdampingan dengan warga ataupun komunitas lain walaupun berbeda agama, ras, suku dan kebangsaannya.