Ini 7 Komitmen Ketua Baru STAI Walisembilan Semarang untuk Mewujudkan Kampus Unggul

csdsdcacd

Sambutan Dr. Uswatun Marhamah, M.Pd. (Foto:Dok/Humas STAI-WS).

Semarang – Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Walisembilan Semarang periode 2026–2030, Dr. Hj. Uswatun Marhamah, S.Ag., M.Pd., memaparkan visi dan arah kepemimpinannya setelah resmi dilantik pada Rabu (1/7/2026). Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen untuk memperkuat tata kelola perguruan tinggi, meningkatkan kualitas pelaksanaan tridarma, serta mempersiapkan transformasi kelembagaan menuju Institut Agama Islam Walisembilan Semarang.

Mengawali pidatonya, Uswatun menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Yayasan Al-Jami’ah Al-Masyhariyah Semarang, seluruh sivitas akademika, serta berbagai pihak yang telah memberikan amanah kepadanya untuk memimpin STAI Walisembilan Semarang selama empat tahun ke depan.

Ia menegaskan bahwa jabatan yang diembannya bukan sekadar bentuk kepercayaan, melainkan amanah besar yang harus diwujudkan melalui dedikasi, integritas, kerja nyata, dan keteladanan.

“Saya menyadari sepenuhnya bahwa kepercayaan ini bukanlah penghargaan kepada pribadi semata, melainkan amanah yang harus diwujudkan melalui kerja nyata, pengabdian, integritas, dan keteladanan. Amanah ini bukanlah sesuatu yang ringan, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan sivitas akademika dan masyarakat, tetapi juga di hadapan Allah Swt,” ungkapnya.

Mantan Wakil Ketua II STAI Walisembilan Semarang tersebut juga mengajak seluruh sivitas akademika untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap institusi. Menurutnya, setiap unsur di lingkungan kampus memiliki potensi, kompetensi, dan peran strategis yang perlu disinergikan demi mewujudkan kemajuan bersama.

Sebagai pedoman dalam menjalankan kepemimpinannya, Uswatun menetapkan tujuh komitmen utama yang akan menjadi fokus pengembangan STAI Walisembilan Semarang, yaitu memperkuat tata kelola perguruan tinggi yang profesional, transparan, akuntabel, dan berintegritas; meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat; membangun budaya akademik yang unggul, inovatif, dan berdaya saing; meningkatkan kualitas dosen dan tenaga kependidikan; memperluas jejaring kerja sama di tingkat nasional maupun internasional; mempersiapkan transformasi kelembagaan menuju Institut Agama Islam Walisembilan Semarang; serta menumbuhkan budaya kerja yang harmonis, kekeluargaan, dan saling menghargai.

Selain menitikberatkan pada penguatan kelembagaan, Uswatun menegaskan bahwa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) harus menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan kehidupan akademik di lingkungan STAI Walisembilan Semarang.

“Nilai-nilai tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (tegak lurus dan adil) harus menjadi spirit dalam membangun budaya akademik yang inklusif, moderat, berkeadaban, dan menjunjung tinggi ukhuwah,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan nilai-nilai Aswaja di lingkungan kampus diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki keunggulan intelektual, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, memiliki kedalaman spiritual, serta berkomitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Dalam kesempatan tersebut, Uswatun juga menaruh perhatian besar terhadap penguatan kemitraan dengan pondok pesantren. Ia menilai pesantren merupakan mitra strategis sekaligus basis kaderisasi mahasiswa yang selama ini memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan STAI Walisembilan Semarang.

Oleh karena itu, kerja sama dengan pesantren akan terus diperluas melalui berbagai program di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi ulama, intelektual, dan pemimpin masa depan yang tetap berakar pada tradisi keislaman sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.

Menutup sambutannya, Uswatun menegaskan komitmennya untuk menjalankan kepemimpinan yang terbuka, partisipatif, dan kolaboratif. Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk aktif memberikan kritik, saran, maupun masukan sebagai bagian dari upaya membangun institusi yang semakin maju.

“Saya percaya bahwa kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang terbuka untuk dikoreksi, mau mendengar, dan terus belajar demi kemajuan bersama,” pungkasnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top